Inhalasi

MYXJ_20170504142449_save

Jadi ceritanya, Alea sakit lagi. Bukan sakit lagi ding, tepatnya sakit yang kemarin belum beres. Kan cerita yang kemarin Alea demam plus batuk pilek. Nah sekarang batuknya yang masih ketinggalan, bahkan sepertinya agak parah.

Kalau soal nafsu makan dan aktivitas sih masih normal, seperti biasanya. Beda dengan ketika dia demam kapan hari, yang langsung menyusutkan seluruh aktivitas dan selera makannya. Kalau sekarang sih nafsu makan sudah kembali, aktivitasnya pun sudah normal seperti sedia kala. Tapi ya itulah, batuknya itu lho, kok ya bikin kasihan. Belum lagi saya, suami, dan eyangnya Alea juga batuk. Kayanya kompak kena batuk alergi, karena minum obat batuk yang biasa aja sudah tidak mempan.

Akhirnya Alea saya bawa lagi ke RS MMC untuk konsultasi ke DSA-nya Alea, Prof. dr. Soepardi Soedibjo, SpA. Sengaja saya pulang kantor 1 jam lebih cepat dari jam pulang demi menghindari macet di Rasuna sehingga bisa sampai di rumah sakit tepat waktu.

Pemeriksaan kali ini tumben Alea sama sekali tidak rewel. Bahkan ketika diminta untuk mendekat dan diperiksa dokter pun tanpa drama nangis sama sekali. Pun ketika dia diminta membuka mulut untuk diperiksa tenggorokannya oleh dokter. Pokoknya Alea kooperatif sekali malam itu. Mungkin karena badannya sudah tidak demam lagi, sudah lebih mendingan dibanding kondisi ketika dia ke rumah sakit kapan hari. Dan saya pun memberi sugesti dan cerita sebelum masuk ke ruang praktik, jadi dia lebih siap mental.

MYXJ_20170504142218_save

Alhasil Alea dinyatakan batuk alergi. Hampir setiap malam Alea rewel sepertinya hidungnya mampet atau kurang nyaman di pernafasannya. Tidurnya pun minta dipangku atau digendong, intinya bukan sambil tiduran di kasur. Menurut dokter, Alea mengalami peradangan disertai batuk, pilek, dan ada dahak, yang semua itu bisa mengganggu kebersihan jalan nafas dan membuat aliran oksigen ke paru-paru tidak lancar. Itulah kenapa oleh dokter Alea disarankan untuk inhalasi, salah satu fungsinya adalah untuk mengencerkan/membersihkan dahak. Dokter juga membuat resep yang berbeda dengan sebelumnya karena obat yang kemarin diresepkan sudah tidak bereaksi, Alea tetap saja batuk pilek.

Ini bukan kali pertama Alea diinhalasi, setahun yang lalu Alea sudah pernah diinhalasi. Tapi berhubung kondisi badannya memang kurang sehat, mood kurang bagus, dan pastinya paranoid duluan lihat suster dan peralatan medis yang ada, jadinya Alea menangis meraung-raung di ruang terapi, hihihi.

Tapi beneran deh, cerita ke dokter kali ini sangat berbeda. Alea jadi anak manis. Tidak menangis, tidak marah-marah, bahkan sepertinya ‘menikmati’ setiap sesi pemeriksaan.

Sesi inhalasi ini berlangsung selama 10 menit. Alea duduk manis di pangkuan eyangnya, sambil membawa brosur yang dia ambil di meja registrasi, dia terlihat asyik sendiri dengan brosurnya. Perawat memasangkan masker dan obat tanpa ada kesulitan. Alea juga enjoy dengan proses penguapan, sambil membolak-balik brosur di tangannya. Sehingga tanpa terasa 10 menit telah berlalu, dan inhalasi pun selesai. Setelah inhalasi, Alea ditepuk-tepuk pelan di area dada dan punggungnya oleh perawat untuk membantu pengeluaran lendir.

Trus, sekarang gimana? Udah sembuh? Alhamdulillah sudah mendingan. Batuk pileknya sudah berkurang banyak. Semoga habis ini sehat teruslah ya, Nak. Sedih mama tuh kalau kamu sakit… 😦

 

– devieriana –

Advertisements

Alea+Demam=Baper

20170410_151344

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu (1/4/2017) Alea demam. Seperti biasa, saya sudah sedia obat penurun demam dan obat flu racikan dokter yang biasa saya minumkan kalau Alea demam, flu, batuk, pilek. Demamnya sempat turun, tapi cuma karena reaksi obat saja, sekitar 3-4 jam pasca minum penurun demam, tapi setelah itu demam lagi. Bahkan suhunya sempat mencapai 39 derajat celcius.

Hari Minggunya (2/4/2017) saya coba minumkan air kelapa hijau, Alea langsung berkeringat banyak sekali, dan suhu badannya langsung turun ke suhu badan normal 37 derajat celcius. Alhamdulillah, sedikit lebih tenang. Apalagi dia juga jadi mau makan dan minum susu, padahal sebelumnya dia menolak, dengan alasan rasa makanannya asin. Mungkin maksudnya pahit ya.

Hari Seninnya (3/4/2017) suhu badannya kembali naik pelan-pelan, padahal Alea harus saya titipkan di daycare. Sedih deh ninggalin anak di daycare tuh, apalagi kalau anak lagi sakit. Sementara kita tidak ada pilihan lain selain menitipkannya di daycare. Walaupun sudah saya bekali obat-obatan tetap kondisi Alea saya pantau dan meminta bunda-bundanya di sana untuk secara berkala mengecek kondisi Alea dengan memeriksa suhu badannya dan meminumkan obat sehabis makan siang. Alhasil badan Alea demam plus batuk pilek yang lagi hebat-hebatnya karena baru mulai. Makin baperlah saya.

Tanpa berlama-lama, saya segera membuat janji konsultasi dengan dokternya Alea di RS Metropolitan Medical Centre (MMC), Prof. dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K). Sengaja saya pulang lebih cepat karena saya dapat nomor antrean 6, yaitu pukul 16.00.

Eyang dokter (demikian beliau memanggil dirinya sendiri untuk para pasien kecilnya) melakukan pemeriksaan dengan seksama. Selain batuk, pilek, penyebab demamnya adalah virus. Jadi kalau virus obatnya bukan dengan antibiotik, tapi kekebalan si anaklah yang akan bekerja melawan virus tersebut. Eyang Dokter hanya meresepkan obat penurun demam dan obat racikan untuk batuk pileknya saja.

Sehari, dua hari, tiga hari, kok Alea masih demam? Duh, kenapa ya? Terhitung sudah lebih dari 4 hari dia demam tinggi, dan tidak biasanya seperti ini. Mulailah bermunculan berbagai kekhawatiran di kepala saya. Bagaimana kalau demam berdarah? Bagaimana kalau thypusMengingat salah satu teman di daycare-nya Alea juga ada yang didiagnosa typhus dan harus rawat inap selama 3 hari di rumah sakit. Nah, kan saya jadi makin baper ya.

Daripada saya baper sendiri, akhirnya saya konsul lagi via whatsapp (untungnya Eyang Dokter ini berkenan ditanya-tanya via whatsapp), sekadar tanya, kalau masih demam, kapan Alea harus kembali lagi ke dokter? Jawabannya, “Kamis, kalau masih panas”.

Dan ternyata hari Kamis (6/4/2017) suhu badan Alea masih tinggi. Panik? Lebih ke khawatir sih ya, karena Alea sudah tidak mau makan, hanya minum saja, kalaupun iya mau makan hanya 1 -2 sendok saja, alasan rasanya asin (pahit). Otomatis kondisi badannya makin drop, lemah, dan hanya mau tidur saja. Itu juga tidak nyenyak, hanya mau bobo gendong.

Tapi #MamaKuduSetrong , hari Kamis (6/4/2017) setelah maghrib, saya dan eyangnya membawa Alea ke dokter, naik taksi, dan ternyata harus menghadapi kemacetan luar biasa parah di sekitar Mampang akibat adanya pengerjaan underpass yang memangkas jalur menjadi lebih sedikit. Pukul 18.45 saya masih parkir manis di Mampang belum bergerak sama sekali. Sementara dokter hanya praktik sampai pukul 20.00. Perjalanan jadi begitu lama karena macet yang luar biasa tadi.

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Sepertinya driver taksi yang saya tumpangi itu membaca pikiran saya. Dia pun segera melesat sesegera mungkin setelah terbebas dari ujung kemacetan di sekitaran Gatot Subroto, dan sampai di RS MMC tepat pukul 19.20. Ya Allah, alhamdulillah akhirnya sampai juga. Baru kali ini Mampang-Rasuna yang biasanya tinggal ngegelundung doang sekarang harus ditempuh dalam waktu hampir 1.5 jam.

Tapi untunglah kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alea pun diperiksa dengan seksama. Diagnosa dokter masih tetap sama, penyebab demamnya ‘hanya’ karena virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Tapi namanya ibu, tetap saja saya ‘ngeyel’, kok diagnosanya ‘cuma gitu aja’? (woalah, Profesor kok dieyeli, hihihik). Lhaaah, terus maunya gimana? Ya, berasa kurang mantep gimana gitu ya. Ih, penyakit kok dimantep-mantepkan…

Eyang Dokter menjelaskan tentang berbagai penyebab demam, salah satunya jika demam disebabkan oleh virus. Bagaimana dengan typhus pada balita? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada typhus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kebanyakan demam yang menyerang anak-anak dikarenakan oleh virus, jadi kekebalan anaklah yang akan melawan virus itu, bukan dengan antibiotik. Bisa jadi kondisi badan si anak sedang drop, dengan mudah virus memasuki tubuh si anak. Ketika kondisi anak sedang kuat, virus akan lebih mudah dilawan. Tapi sebaliknya, ketika kondisi anak sedang drop, virus akan bertahan lebih lama di tubuh anak.

Bagaimana dengan demam berdarah? Beliau menjelaskan, demam berdarah ‘zaman sekarang’ tidak lagi menampakkan diri dengan bintik-bintik merah, tapi harus melalui tes darah.

Me: “Jadi, anak saya demamnya cuma karena virus aja, Dok?”

Dokter: “Iya, virus. Tapi ya sudah, coba kita cek darah sederhana aja ya. Makan dan minumnya gimana? Masih mau, nggak?”

Me: “Kalau minum sih dia mau, Dok. Makan yang dia nggak mau, alasannya rasanya asin… hehehe”

Dokter: “Kalau masih mau minum, itu bagus. Karena pada saat flu/demam, anak harus banyak minum supaya tidak dehidrasi. Sudah pup belum?”

Me: “Sudah, Dok. Malah sempat pup yang cair gitu, semacam diare”

Dokter: “Bagus, gapapa. Sekali aja, kan?”

Me: “Iya, sekali aja”

Dokter: “Itu tandanya tubuhnya sedang berusaha mengeluarkan racun. Gapapa. Jadi, sekarang kita coba ambil darah sambil sekalian diinfus aja ya…”

Saya pun mengangguk sambil trenyuh sendiri membayangkan tangan mungil batita saya unuk pertama kalinya disentuh jarum infus. Baper. Tapi sekali lagi, kan #MamaKuduSetrong , jadi ya harus kuat!

Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat batitanya menangis panik ketakutan melihat dirinya dikelilingi para petugas medis yang mulai melakukan penanganan. Dengan tangis yang keras, Alea saya peluk sambil tiduran, sementara tangan kirinya mulai dibebat untuk dicari urat nadinya, diambil darahnya, dan disusul dengan cairan infus.

Alea diinfus selama kurang lebih 2 jam, mulai pukul 20.00-22.00. Suhu badannya berangsur-angsur normal, 37.5 derajat celcius. Hasil cek darahnya pun menyatakan bahwa demam yang diderita Alea ‘hanya’ virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Alhamdulillah. Sekitar pukul 23.00 kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lebih lega ketimbang sebelumnya.

Sekarang tinggal batuk pileknya saja yang belum sembuh, tapi insyaallah berangsur-angsur membaik, walaupun nafsu makannya masih belum pulih seperti semula.

Semoga cepat sehat ya, Nak. Jangan sakit-sakit lagi ya. Mwach!

 

  • devieriana

 

ilustrasi: koleksi pribadi

Tentang Menyapih

weaned

Dari dulu saya sering bertanya kepada para ibu dan teman yang punya anak usia di bawah 3 tahun, tentang kapan, dan bagaimana cerita serta usaha mereka ketika menyapih anak. Dan berbagai cerita serta teori beragam sudah saya dapatkan, bahkan bahkan sejak Alea masih bayi. Kenapa harus sejak bayi? Baru juga mereka lahir, masa sudah mau disapih aja? Bukan, maksudnya, jika memang sudah waktunya, dan ternyata menyapih itu butuh kesiapan mental, setidaknya saya sudah mempersiapkan diri sejak dini.

Menyapih, bukan cuma bicara tentang kesiapan anak untuk tidak lagi menyusu kepada ibunya, tapi lebih dari itu, kesiapan dan keikhlasan ibunya untuk mulai melepas balitanya agar tidak lagi menyusu padanya. Dan itu bukan hal yang bisa begitu saja diterima dengan mudah oleh kedua belah pihak. Banyak ibu yang melakukan penyapihan lebih dini atau lebih lambat karena alasan–alasan tertentu. MIsalnya, karena kesibukan ibu bekerja sehingga tidak memungkinkan anak menyusu lebih lama, karena produksi ASI tidak lancar, atau karena anak tidak mau disapih.

Kalau bicara soal ASI, ASIP saya tidak terlalu banyak, yang botol/kantongnya sampai menuh-menuhin lemari pendingin. Tapi alhamdulillah cukup untuk Alea paling tidak sampai usianya 6 bulan. Di atas usia 6 bulan Alea masih menyusu pada saya sambil kombinasi dengan susu formula atau air putih, sambil frekuensi menyusunya mulai saya kurangi pelan-pelan sampai akhirnya hanya kalau mau tidur saja menyusunya.

Nah, hingga usia lebih dari 2 tahun, saya mulai galau sendiri. Bagaimana ya cara paling lembut untuk meminta Alea tidak lagi menyusu pada saya tanpa pakai mengoles ini itu di payudara saya. Frekuensi menyusu sudah sangat berkurang sih, kalau cuma mau tidur malam saja, itu juga nggak sampai 5 menit sudah pulas, cuma buat ngempeng doang.

Sampai suatu hari, kami pergi jalan-jalan ke Taman Mini untuk mengunjungi wahana baru, Petualangan Dinosaurus. Alea itu anaknya takut-takut berani, atau berani tapi takut, hahaha… ya begitulah. Kalau secara fisik sih, dia masih berani lihat, tapi jangan sampai menggeram/bersuara. Lha, kan di sana dinosaurusnya pakai sound effect semua. Jadi ya Aleanya sukses jejeritan. Kecuali kita sudah bilang kalau dinosaurus yang ini baik, dia tidak akan takut. Jadi ada sugesti positif dulu baru dia mau lihat dinosaurusnya. Owalah, niat miknikin anak, kok ya malah nggak terhibur ya, hahaha.

Sampai akhirnya dia melihat patung komodo, dan saya mulai cerita tentang komodo. Sebenarnya sih dari awal nggak ada niatan untuk menggunakan komodo sebagai ‘alat’ penyapihan, tapi kok ndilalah cerita komodo ini ternyata berhasil menyita perhatiannya sehingga malamnya dia tidak lagi menyusu pada saya.

Kok bisa? Emang ada cerita apa sama komodo? Hihihik. Saya cuma bilang, komodo itu nggak suka sama anak yang masih mimik mamanya. Kalau ada yang masih mimik mamanya, dia akan cari, trus nanti bakal nongkrong di depan rumah. Nah, dari situ Alea mikir, kok ngeri amat rumah dia ditongkrongin sama komodo? Jadi nggak bisa ke mana-mana dong? Nggak bisa keluar rumah, nggak bisa belanja, nggak bisa main, nggak bisa ke mall, nggak bisa main perosotan. Nggak asik banget ya komodo ini! Jadi, daripada rumah ditongkrongin komodo, mending aku nggak mimik Mama deh…

Eh, semudah itu? Mungkin lebih ke cara ‘mendongengnya’ ya. Mengingat ‘komodo nongkrong’ ini kan cerita yang sangat fiksi ya, tapi ndilalah dia paham dan mau nggak mau ‘menerima’ dongengan emaknya. Jadi ya begitulah, sejak tanggal 28 Maret 2017, Alea sudah tidak lagi menyusu ke saya. Sebenarnya dalam hati ya agak nggak tega juga sih, apalagi malam pertama dia bobo tanpa menyusu/ngempeng, itu bikin sedih. Guling sana, guling sini, minta mimik air putih, minta dikusuk-kusuk punggungnya, glibag-glibug, gelisah, minta mimik air putih lagi. Tapi lama-lama tertidur juga setelah saya usap-usap kepalanya sambil saya nyanyiin nina bobo. Begitu juga di hari kedua. Di hari ke tiga, cuma saya usap-usap punggungnya sambil saya sambi ngobrol sama papanya, kok dianya sudah nggak bersuara. Ternyata sudah pulas, padahal proses usap-usapnya nggak sampai 5 menit. Nah, sampai sini emaknya yang justru baper. Baper karena si anak sudah bobo sendiri tanpa ngempeng. Lah, gimana sih, kan situ yang minta anaknya nggak lagi menyusu. Iya sih, bapernya cuma sebentar kok, terusannya bangga. Ternyata Alea mudah menyesuaikan diri dengan kondisi yang bahkan kurang mengenakkan buatnya.

Setiap ibu pasti punya cara tersendiri untuk menyapih buah hatinya. Yang paling mudah sih kalau dari anaknya sendiri yang sudah tidak ingin menyusu pada ibunya, walaupun pasti ibunya baper. Tapi kalau anak tiba-tiba dijauhkan dari ASI, pasti anaknya juga akan bertanya-tanya, “kok aku nggak boleh mimik Mama lagi?”. Giliran anaknya yang baper, kan?

Ada teman-teman yang menyapih dengan melekatkan plester atau mengoleskan sesuatu yang rasanya pahit ke payudaranya. Ada juga yang katanya cukup diberi pengertian di setiap sesi komunikasi dengan anak, atau pas mau tidur malam, dan berbagai cara unik lainnya.

Jadi memang semua itu butuh cara, waktu, dan proses. Waktu dan cara menyapih oleh tiap ibu dan balitanya tentu berbeda-beda, karena setiap anak punya keunikan dan karakter sendiri, sehingga caranya pun tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya.

“While many people see weaning as the end of something – a taking away or a deprivation- it’s really a positive thing, a beginning, a wider experience. It’s a broadening of a child’s horizons, an expansion of his universe. It’s moving ahead slowly one careful step at a time. It’s full of exciting but sometimes frightening new experiences. It’s another step in growing up.”  

The Womanly art of Breastfeeding, page 237

Semua pengalaman menyusui Alea merupakan hal yang berkesan dalam hidup saya, kapan pun dan dimana pun. Semua memori dan pengalaman tentang menyusui, baik itu drama-dramanya, keseruannya, dan posisi-posisi ‘akrobatik’ yang pernah kami lakukan selama proses menyusui akan tetap ada dalam ingatan saya. Terima kasih Alea, untuk 2 tahun 8 bulan yang telah kita jalani bersama. I love you, pipi mochi!

– devieriana –

ilustrasi dipinjam dari sini

Guilty Feeling

 

Sejak jadi ibu, otomatis aktivitas sehari-hari saya berubah drastis, termasuk jadwal me time. Pernah saya tuliskan di blog utama saya   , bahwa meluangkan waktu bersama Alea juga termasuk me time bagi saya (saking tidak banyaknya waktu bersama si kecil). Ketika harus meninggalkan si kecil dalam waktu lama di luar jam kerja saya yang harus bisa mengatur waktu, supaya urusan di luar tetap beres, tapi  tidak sampai kehilangan waktu bersama anak.

Ada cerita yang ‘nyesek’ juga sih kalau soal bagi waktu dan me time ini. Beberapa waktu yang lalu, niat hati sih pulang on time seperti biasa. Tapi teman-teman kantor mengajak hangout karaokean di Senayan City, karena kebetulan ada seorang teman yang baru kembali lagi tugas di kantor setelah sekian lama diperbantukan di kementerian lain. Saya pikir, okelah kalau cuma sejam aja, nanti saya tetap bisa menemani Alea sebelum dia bobo.

Nah, tapi tahu sendiri kan, kalau karaokean itu tidak akan cukup dengan waktu 1 jam saja, apalagi kalau jamaahnya banyak. Walaupun akhirnya saya pulang bersama suami yang kebetulan juga ada acara di Plaza Senayan, tetap saja ketika sampai rumah (pukul 20.00) sudah menjumpai Alea sudah pulas. Diam-diam ada rasa bersalah juga. Seharusnya pukul 6 sore saya sudah ada di rumah menemani dia main sebentar, membantu gosok gigi, dan menemaninya bobo.

Makin baper ketika Mama cerita kalau sejak pukul 17.30 sampai dia mengantuk, tiap kali ada suara orang yang membuka pagar, dia selalu bilang, “Itu Mama, Nan!”, padahal itu suara pagar tetangga yang mau masuk/keluar rumah. Lebih trenyuh lagi, ternyata malam itu dia menunggu saya pulang kantor sambil bernyanyi-nyanyi lucu di ruang tamu dan teras depan rumah. Killing time sampai saya datang :(. Dan, ketika ternyata saya tak kunjung datang di waktu-waktu seharusnya saya sudah ada di rumah, dia pun pasrah bobo dikeloni eyangnya karena matanya sudah tak kuasa menahan kantuk.Duh, jadi makin baper…

Ketika menjadi orang tua, ada saat di mana kita harus menurunkan ego. Ada waktu yang sementara harus kita luangkan untuk anak/keluarga. Bukan berarti ketika kita sudah menjadi orang tua, kita tidak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri atau bersama pasangan, tapi lebih ke  skala prioritas sih. Toh mereka bergantung penuh kepada kita juga tidak lama kok. Suatu saat akan tiba masa di mana mereka akan menjadi dirinya sendiri, memiliki dunia sendiri, meminta waktu untuk diri mereka sendiri. Di situlah akan tiba masa kita merindukan saat mereka masih sangat bergantung pada kita.

“Your children need your presence more than your presents”
– Jesse Jackson –

Happy Birthday, Alea!

Alea ketika baru lahir, dan Alea sekarang

 

Minggu pagi, tanggal 17 Juli 2016, sekitar pukul 5 pagi, Alea bangun lebih dulu daripada kami semua. Seolah dia tahu kalau hari ini adalah hari istimewanya, tiba-tiba dia bertepuk tangan sambil masih tiduran di antara kami, dan bersenandung lirih lagu Happy Birthday dengan logat dan suara anak-anaknya yang menggemaskan, “epi… tu yuuu… epi…. tu yuuu… Yeeeey!”. Sontak mata saya terbuka; sambil menahan senyum saya colek papanya Alea yang masih pulas di samping saya untuk ikut diam-diam mendengarkan nyanyian bayinya yang hari ini bukan lagi bayi. Ya, hari ini Alea tepat berusia 2 tahun!

Hari ini adalah ulang tahun Alea yang kedua. Jeda 12 bulan setelah ulang tahunnya yang pertama Alea mengalami banyak sekali perubahan dan pertumbuhan yang signifikan. You are no longer a baby, but a little girl. I didn’t think I could love you more, but I do.

Penguasaan bahasa dan kata-katanya berkembang pesat. Dia sudah bisa menirukan kata apapun yang kami ucapkan, menirukan ekspresi wajah, hampir hafal setiap scene film animasi yang sengaja kami download-kan buat dia tonton di rumah, bahkan baru opening scene-nya saja dia sudah tahu itu film apa, sudah bisa minta minum kalau haus, minta maem kalau lapar, sudah bisa bilang pup, bahkan mengajukan protes ketika dia tidak berkenan terhadap sesuatu, seperti misalnya kemarin malam ketika kami memintanya gosok gigi sebelum tidur:

Eyang: “ayo Alea, gosok gigi dulu sini sama Nan…”
Alea: “Nan, nggak mau, Nan! Mamaaa!”
Eyang: “Oh, maunya sama Mama?”
Alea: “Mama, iya…”

and banyak lagi lainnya…

Kadang saya, papanya, atau eyangnya suka ‘frustrasi’ sendiri ketika tidak mengerti apa yang dia inginkan. Seperti misalnya, dia tiba-tiba bilang, “pipi panyas”. Biasanya, kalau memang iya benar apa yang kami katakan itu sesuai dengan maksud dia, Alea akan merespon, menganggukkan kepala atau mengiyakan apa yang kami katakan. Tapi kalau tidak, biasanya dia akan diam, menunggu sampai respon kami sesuai dengan maksudnya, hahaha… Sepertinya harus kursus bahasa asing nih, spesialisasi bahasa bayi.

Kadang dia juga suka marah kalau apa yang dia inginkan tidak selamanya kami turuti. Kadang sedih juga kalau lihat dia marah, tapi seringnya malah bikin geli. You are cute even when upset, Alea! Hahaha. Tapi sering juga ketika dia melakukan sesuatu dan itu bikin saya kesal ending-nya malah bukan kesal, tapi gemas. Seperti misalnya ketika dia minta snack Pringles, saya bilang:

Me: “Alea, nanti kalau maem, jangan di kamar ya, jangan di kasur, nanti banyak semut. Ya, Nak ya…”
Alea: *mengangguk tanda paham*

Ya sudah, saya nyuci piring di dapur, tapi di sela nyuci piring itu mata saya mengarah ke kamar. Eh, lha kok ndilalah Alea sedang menuangkan remah-remah Pringles ke lantai kamar *tepok jidat*

Me: “Alea! Huhuhu, kenapa kok ditumpahin ke lantai? Kan nanti banyak semut… Emang Alea mau bobo sama semut?” *sambil nyapu lantai*
Alea: “Mau! Hai cemuuuk, dadaaah….” *sambil kakinya diangkat ke kasur karena lantainya mau saya sapu*
Me: *speechless*

Lha? Kok jawabannya malah mau, pakai dadah-dadah segala ke semutnya… Moment seperti itulah kadang yang bikin kita awalnya kesel jadi gemes seketika.

Dan moment yang paling mengharukan adalah ketika dia tiba-tiba melakukan gaya shalat di keset depan pintu, sambil mengangkat kedua tangannya dan lalu sedekap sambil bilang, “Awoooo, hwa bas!”, maksudnya Allahu akbar… Saya bengong melihat dia rukuk dan sujud, lalu berdiri lagi. Kurang lebih mirip dengan gerakan shalat. Dia memang sering ikut saya shalat dan ketika sujud, dia pun ikut sujud. Tapi baru kali ini dia melakukan gerakan menyerupai orang yang sedang shalat. Ah, Alea…

Secara fisik pertumbuhan dia cukup bagus, bahkan banyak yang bilang kalau badannya panjang, lebih tinggi dari anak seusianya, tapi saya tetap saja kurang ‘ngeh‘ dengan perbedaan tingginya. Memangnya kalau anak usia 2 tahun harus seberapa sih? Ya alhamdulillah kalau memang tinggi, kan nanti bisa jadi Paskibraka ya, Nak… hihihik. Aamiin…

Selama beberapa bulan dia di daycare, sedikit banyak mempengaruhi perkembangan emosi dan psikologisnya. Saya akui penguasaan emosinya luar biasa. Pernah suatu ketika dia saya drop di daycare dan saya tidak bisa lama-lama berada di sana karena saya harus mengemsi di sebuah acara. Saya tahu dia kurang suka saya tinggal begitu saja, tanpa saya temani dulu, saya tahu dia pengen nangis, tapi dia hanya mewek sedikit ketika mencium tangan saya dan saya cium kedua pipinya, melihat saya pergi sambil dadah-dadah dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dan ketika dipeluk salah satu bunda pengasuhnya itu saya lihat dia sedang menitikkan air mata. Dia menangis, tapi tidak tantrum, tidak menangis keras seperti anak lainnya. Dia mampu mengendalikan perasaannya. Ah, Alea… kamu bikin Mama baper ketika menuliskan ini, Nak…

Saya dan papanya Alea sedang belajar-belajarnya jadi orang tua. Sudah banyak nasihat yang kami terima baik itu dari orang tua maupun dari diskusi, buku/web parenting. Satu hal yang paling stuck out most adalah, ikutilah nalurimu. Dan itulah yang sedang saya coba. Menjadi orang tua memang tidaklah mudah, and yet you make it all worthwhile; menjadikan segalanya berharga. Bahkan di saat-saat yang sulit sekalipun.

I can’t tell you how much you mean to me, Alea; and how glad I am to have you in my life…

Happy 2nd birthday, my sweetie pie…
I love you now and for always…

Jadi Ibu ‘Beneran’

Alea dan Mama :D

Lama juga ya saya tidak up date blog, padahal ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini. Tapi ya semua terkait masalah waktu, kesempatan, dan niat menulis yang kadang menguap begitu saja *self toyor*

Jadi ceritanya sudah hampir sebulan ini Alea saya bawa ke kantor, bukan ikut saya kerja seharian di ruangan, tapi saya titipkan di daycare Taman Balita Sejahtera yang kebetulan dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan kantor saya. Lah, kenapa kok tiba-tiba Alea harus dititipkan di daycare? Tentu keputusan ini sudah melalui pemikiran yang masak walaupun pada awalnya terasa berat. Bukan hanya berat buat saya, tapi juga buat eyangnya, dan tentu saja buat Alea yang tiba-tiba harus merasakan ‘berpisah’ sejenak dengan keluarga yang dikenalnya, dan seharian harus berada di tempat ‘asing’/baru, dengan teman-teman baru dan para bunda yang pengasuh. Tapi gapapalah, sekalian latihan buat Alea bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan pra sekolah, walaupun usia Alea belum genap 2 tahun.

Rasanya waktu hampir 2 tahun ini sudah ‘cukup’ bagi mama saya untuk mengasuh/menjaga Alea. Sejak Alea lahir sampai dengan Alea hampir berusia 2 tahun mamalah yang setiap hari merawat dan menjaga Alea. Jadi memang saya lumayan terbantu dengan adanya mama di rumah. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mama memang harus kembali pulang untuk menemani papa di Surabaya. Sementara untuk memutuskan mencari baby sitter/pengasuh saya masih banyak mikirlah. Makanya, sebulan pertama adalah masa percobaan bagi saya, Alea, dan mama untuk menjalani rutinitas baru sebelum akhirnya nanti mama benar-benar pulang.

Hari pertama Alea di daycare lumayan terlihat menyenangkan, dia terlihat antusias dengan komentar pertamanya ketika melihat banyak anak kecil seusianya, “wooow!. Tak disangka-sangka, dia pun langsung bisa mingle dengan teman-teman barunya, ikut senam, main perosotan, dlll. Melihat tingkah polahnya yang lucu itu antara sedih dan haru karena saya harus meninggalkan batita saya sendirian. Jujur, jauh dalam hati sih saya baper abis; tidak tega meninggalkan Alea di tempat baru dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi bismillah sajalah, semoga dia baik-baik saja. Tapi ya namanya bocah, lama-lama dia sadar juga kalau mama, papa, dan eyangnya tidak ada bersamanya, kalau mulai rewel ya sangat dimaklumi. Tapi ada yang lumayan melegakan, menurut bunda pengasuhnya, nafsu makan Alea bagus, minum susunya juga bagus, dan kemampuannya menyesuaikan diri di tempat baru sangat cepat, termasuk berbeda dengan anak lain seusianya.

Hari pertama dilalui dengan alhamdulillah lumayan tanpa drama. Hari kedua, lihat pagarnya daycare saja dia sudah tidak mau, apalagi hari ketiga, dan keempat (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dan ndilalahnya dia pas flu berat), dramananya lumayanlah. Mungkin karena badannya lagi kurang nyaman, jadi maunya ya sama mamanya aja. Jadi kata bunda-bundanya di daycare Alea memang agak rewel.

Trus, apa kabar setelah hari keempat? Alea nggak masuk selama 2 minggu karena flu batuk pilek disertai demam tinggi. Ya menurut dokter sih common cold saja sih, kalau demam tingginya itu karena radang tenggorokan. Tapi ya tetap saja saya baper karena pikiran sudah ke mana-mana. Untungnya waktu itu mama belum pulang ke Surabaya, jadi masih ada yang merawat Alea selama dia sakit.

Sebagai ibu kadang memang harus ‘tegaan’ ya. Maksudnya, jangan terlalu baperan, harus kuat gitu. Kebetulan dokternya Alea menyarankan Alea harus dinebulizer supaya pernafasannya agak enakan, saya sih nurut saja, selama ini kebetulan flu batuk pileknya memang tidak separah yang ini, jadi kalau memang harus diuap mendingan diuap deh, biar flunya beres sekalian. Nah, melihat Alea harus dinebulizer dan menangis meraung-raung itu pun sebenarnya antara tega nggak tega tapi ya kalau nggak tega nanti dia nggak sembuh-sembuh dong. Dinebulizer itu kan sebenarnya nggak sakit, tapi berhubung bocahnya tegang lihat suster, liat alat-alat yang buat dia, “eh, aku mau diapain nih…” itu ya jadi bikin dia nangis, hehehe. Tapi lucunya, setelah proses penguapan itu selesai, Alea diajak ngobrol oleh suster yang menangani penguapan, “Nah, udah selesai nih. Nggak sakit, kan? Enak, kan?”. Dengan muka lucu Alea menjawab, “enyak..”, sambil mengangguk. Kalau enak kok nangis? *uyel-uyel*

Nah, baru terasa beneran jadi ibu itu ya pas mama beneran pulang ke Surabaya. Jungkir balik iya, karena Alea maunya apa-apa sama saya. Kalaupun mau sama papanya ya kalau lagi main, atau nonton film. Nah, selama mereka sedang nonton film atau tidur saya membereskan rumah. Sempat keteteran sih, sampai akhirnya menemukan format yang pas, terutama buat saya. Pokoknya nyuci, beberes rumah, nyiapin perlengkapan yang harus dibawa Alea, dan setrika baju yang dipakai besok pagi itu harus malam hari, karena kalau baru dipegang pagi, nggak bakal beres semua. Jadi, di awal-awal kemarin sih baru tidur pukul 1 malam, dan bangun pukul 4 pagi. Tapi makin ke sini setelah mengutak-atik ‘formula’ beberes ini itu, lumayan bisa tidur pukul 11 malam, dan bangun pukul 5 pagi.

Pukul 06.30 saya dan Alea sudah harus siap berangkat. Berhubung kantor papanya Alea di Sudirman, jadi kalau harus nganter dulu ke kantor saya di Veteran, bakal ribet di jalur balik menuju kantornya, karena biasanya macet parah di sekitaran Kanisius. Tapi kalau berangkatnya pagi banget Aleanya belum bangun, dianya nanti malah uring-uringan. Jadi dibikin enjoy sajalah, win-win solution biar sama-sama nggak terlambat, salah satu harus naik Go-Jek.

Kalau biasanya ke kantor cuma bawa 1 tas kerja saja, sekarang tambah 1 tas baby plus gendongannya Alea. Kadang kalau dilihat-lihat kaya bukan orang mau ngantor, tapi udah kaya orang mau mudik, hahahaha. Ternyata jadi ibu ‘beneran’ itu tidak mudah, ya. Iya, ibu beneran, ketika masih ada mama kemarin saya belum merasa jadi ibu yang sesungguhnya, karena saya belum merasakan sendiri mengasuh anak, merasakan bangun paling pagi dan tidur paling malam demi mengerjakan segala sesuatu agar selesai tepat waktu dan tidak keteteran. Untuk semua perjuangan yang telah dilakukan oleh seorang ibu demi keluarganya, itulah kenapa Betty White pernah bilang, “It’s not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it.”

“Sometimes being a mom is just the most overwhelming job on the planet. But when you pause to filter you response trough love, your children will learn how to handle life well instead of letting life handle them. “
– Stephanie Shott –

Selamat pagi, selamat menjelang akhir pekan 🙂

 

 

Bahagia Itu Sederhana

PMS

… ketika saya kembali menstruasi …

Kesannya kok saya segitu amatnya, ya? Hahaha… Emang iya. Setelah melahirkan, saya tidak langsung dapat haid yang teratur seperti cerita teman-teman atau sepupu-sepupu saya yang baru melahirkan. Memang, mereka juga tidak langsung haid sih, tapi jeda setelah lahiran tidak terlalu lama. Paling lama 5-7 bulan setelah melahirkan mereka sudah kembali merasakan tamu bulanan secara teratur.

Katanya, kalau menyusui aktif memang seperti itu. Teman/sepupu yang lain juga sama menyusuinya, tapi kok dapat haidnya cepat, sementara saya harus menunggu setahun lebih untuk mendapat haid lagi seperti sediakala? Walaupun jawabannya adalah hormonal, tapi tetap saja ada secuil rasa khawatir. Bahkan, ketika melihat hasil papsmear yang semuanya normal dan baik-baik saja, kekhawatiran itu masih ada. Sampai akhirnya saya konsultasi ke obgyn saya untuk sekadar memastikan bahwa saya baik-baik saja, barulah saya merasa lebih tenang. Iya, saya sampai separno itu, karena saya merasa berbeda dengan teman/saudara laiannya, hehehe. Lebay banget ! :D. Ya maklum, baru pertama…

Haid saya yang pertama setelah lahiran jatuh di bulan Agustus 2015, itu pun cuma sekadar flek kecokelatan, dan cuma sehari. Setelah itu bersih, seperti tidak ada apa-apa. Bulan berikutnya, tamu bulanan absen, tidak datang sama sekali, baru berikutnya datang tapi ya ‘ala kadarnya’ saja. Barulah tamu bulanan itu mulai menunjukkan jati dirinya kembali di bulan November dan Desember 2015. Yaay! Akhirnya, yang ditunggu datang juga! Hahaha…

Alhamdulillah sekarang sudah mulai rutin. Berarti saya harus mulai siap-siap merasa sensitif, cranky, galak, emosional, layaknya perempuan yang sedang PMS pada umumnya ya. So, buat yang lagi deket-deket saya di tanggal-tanggal lagi PMS, harus menyiapkan ketabahan lapis tujuh 😀