Balada Flek

“Hiks, apa ini? :(“

Spontan saya panik sendiri di toilet kantor. Bagaimana tidak, pagi itu, saya baru saja datang; seperti biasa sebelum mulai bekerja saya selalu ke toilet untuk buang air kecil dan merapikan diri. Tapi hari itu (28/05), selesai buang air kecil, saya melihat ada dua bercak darah segar di celana dalam saya. Haduh, ini kenapa? 😥

Saya keluar toilet dengan langkah pelan, khawatir darah yang keluar akan bertambah banyak. Dengan wajah khawatir saya menghampiri Mbak Shanty, salah satu teman seruangan, dan cuma bisa bilang,

“Mbak Shanty… 😦 “

Karena kata-kata saya kurang jelas, wajah saya terlihat khawatir, dan saya langsung saja jalan menuju ke kubikel saya tanpa melanjutkan kata-kata saya tadi, jelas menimbulkan rasa penasaran baginya. Dengan segera dia menghampiri saya dan menanyakan ada apa. Tak lama, semua teman perempuan di ruangan berkumpul di kubikel untuk menenangkan saya. Bagaimana saya bisa menyembunyikan kekhawatiran saya kalau yang keluar tadi adalah darah segar, bukan ‘sekadar’ flek berwarna cokelat 😦 .

Saya pun segera sms ke dokter untuk menanyakan apakah dengan kejadian ini saya cukup beristirahat saja dulu di klinik kantor atau harus segera ke RS untuk mendapatkan penanganan. Tak lama dokter saya membalas dan meminta untuk segera ke RS untuk dicek. Perasaan saya sedikit lebih tenang. Sengaja saya tidak memberitahu suami dan anggota keluarga yang lain supaya mereka tidak panik. Biarlah nanti mereka akan saya beri tahu ketika saya sudah mendapat info yang jelas dari dokter tentang apa yang saya alami pagi ini. Kalau diberi tahu sekarang keburu mereka panik duluan.

Ada hal lucu sekaligus mengharukan yang saya alami pagi itu sebelum ke RS. Ketika saya keluar dari toilet untuk mengecek ulang kondisi pendarahan saya, telah berdiri di dekat mushola, dr. Parlin dan asistennya, Mbak Okti. Mereka adalah tenaga medis dari klinik kantor. Rupanya Kasubbag saya sudah menghubungi klinik terlebih dulu agar ada tenaga medis yang mengecek kondisi saya. Dengan sigap Mbak Okti mengecek tensi dan denyut nadi saya. Alhamdulillah semua normal. Baby Jumjum pun masih bergerak dengan aktif di dalam perut. Itu yang membuat saya lebih tenang. Saya cuma diminta tenang dan jangan terlalu banyak gerak. Bahkan mereka menawarkan saya untuk diantar ke lantai 1 dengan menggunakan kursi roda. Haduh, saya insyaallah masih kuat kok, teman-teman :D.

Di situlah letak keharuan saya. Teman-teman dan bapak-bapak saya di kantor begitu peduli dan sayang banget sama saya dan baby Jumjum. Di halaman depan ternyata sudah terparkir ambulans yang sudah siap mengantar saya ke RS St. Carolus. Saya masih sempat bercanda waktu tahu saya akan diantar dengan menggunakan ambulans.

“Dok, nanti kalau diantar naik ambulans, sirinenya jangan dibunyikan, ya 😐 ”

“Lah, ya biar aja, emang orang-orang tahu siapa yang lagi ada di dalam ambulans? 😆 “

Hmm, bener juga sih. Ya biar nggak berkesannya heboh gitu, kan kasus saya nggak heboh-heboh amat. Akhirnya untuk pertama kalinya saya naik ambulans, Pemirsa! :mrgreen: . Mbak Shanty dan Mbak Okti ikut mengantar saya menuju ke RS St. Carolus, diiringi dengan sirine ambulans yang berbunyi nyaring sepanjang jalan menuju rumah sakit 😆 . Lucunya lagi, setibanya di RS St. Carolus, Pak Driver ambulans dengan sigap langsung mengantar saya ke… Unit Gawat Darurat! Jiaaaah, kan tempat praktik dokter saya ada di ujung gerbang dekat pintu masuk, Pak 😆

“Eh, kejauhan ya? Waduh, maaf Mbak… Kebiasaan kalau nurunin pasien selalu di UGD…”

Hahaha, nggak apa-apa, Pak. Maaf sudah merepotkan 😆

Setelah registrasi di meja administrasi, saya pun langsung menuju ke ruang tunggu dr. Royanto Darmaputra, SpOG. Dalam kondisi normal, setiap kontrol saya selalu registrasi lebih dulu via telepon, tapi khusus hari itu saya langsung ke RS mengingat kondisi saya yang darurat. Jadi mau nomor berapapun seharusnya saya akan dapat prioritas dong, ya? Itu pikir saya. Tapi khilafnya, karena efek panik, saya sms dokter tanpa menyebutkan nama. Halaaah, bodohnya. Alhasil saya bukannya didahulukan tapi dipanggil mengikuti nomor antrean. Hyaaaa… 😥 . Makanya kalau ada apa-apa paniknya jangan didulukan! *self toyor*

Akhirnya saya dipanggil juga masuk ruang praktik. Dengan cengengesan saya bilang,

“Dok, yang tadi sms itu saya… Maaf saya lupa sebutin nama karena paniknya 😀 ”

“Saya itu juga sebenernya bingung. Ini yang saya mau dulukan pasien saya yang mana, ya? Yang sms saya ini siapa? Sudah waktunya lahiran apa belum? Coba tadi sebut nama, langsung saya dulukan konsultasinya. Pasien-pasien yang memang butuh penanganan emergency pasti akan kita prioritaskan, kok”

“Hahaha, iya, Dok. Maaf. Nanti lain kali saya kasih nama 😆 ”

“Ya udah, hayuk diperiksa dulu…”

Akhirnya Jumjum pun diobservasi oleh dokter. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Perut saya juga sedang dalam keadaan tidak tegang/kontraksi. Flek darah tadi muncul sebagai efek berat badan bayi yang semakin bertambah di trimester ketiga ini, tubuh bayi yang semakin besar, gerakan bayi yang semakin aktif dan ruang gerak yang semakin sempit seiring dengan pertumbuhan badannya, plus saya yang placenta previa. Jadi karena faktor-faktor itulah yang menyebabkan saya mengalami flek. Selebihnya semua kondisi bayi dan saya baik-baik saja. Detak jantung baby Jumjum juga kuat. Itu yang membuat saya jauh lebih lega.

premaston dan kalnex

Dokter pun memberi saya Premaston (penguat kandungan) dan Kalnex (obat untuk mencegah terjadinya pendarahan). Dokter juga menyarankan saya untuk beristirahat sementara dan banyak makan untuk menaikkan berat badan bayi saya. Dalam dua bulan menjelang persalinan ini berat badan bayi saya sebenarnya sudah 1,7 kg. Tapi menurut dokter itu masih sangat kurang, karena kemungkinan saya akan mengalami flek akan berulang. Jadi sekadar untuk jaga-jaga, just in case Jumjum harus dilahirkan lebih awal (semoga sih Jumjum terlahir cukup umur), at least dia sudah terlahir dengan berat badan yang cukup. Minimal 2,5 kg, tapi kalau bisa ya lebih dari 2.5 kg. Toh saya akan mengalami proses sectio karena plasenta previa, jadi tidak perlu khawatir bayi terlalu besar.

“Kamu nggak perlu diet-dietan lho, ya! Makan yang banyak. Berat badan bayi kamu masih kurang tuh. Dalam dua bulan ini kamu saya target harus bisa menaikkan berat badan bayi sampai paling tidak 2,5 sampai 3 kg, supaya cukup untuk dilahirkan…”

“Yah, dokter. Selama hamil saya mana ada kenal diet sih 😦 . Coba tanya sama teman saya ini deh. Menu makan kami tuh udah kaya orang kalap. Saya sarapan selalu 2x, di rumah dan di kantin. Siangnya makan nasi porsi penuh, lengkap dengan sayur, lauk, jus buah pakai susu, air putih. Malamnya pun makan porsi normal, saya juga minum susu dan minum vitamin. Makanya saya heran, semua makanan itu larinya ke mana ya, Dok? Hiks 😦 “

Jadi tugas utama saya sekarang selain tetap jaga kondisi, selain itu adalah banyak makan dan tidak melakukan aktivitas berat sementara waktu. Semoga dalam dua bulan ke depan target berat badan baby Jumjum berhasil ya. Doakan saya ya, Pemirsa! :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s