Pindah Rumah Sakit

ruang periksa di RSUD Pasar Rebo

Selama ini, saya rutin kontrol ke RS St. Carolus di Salemba. Pertimbangannya apa? Nggak ada sih, cap-cip-cup aja sih awalnya, lagian relatif dekat dengan kantor. Padahal, kalau mau, ada yang lebih dekat lagi dari kantor, di RS Budi Kemuliaan. Tapi entah kenapa sejak awal saya kepikirannya ke St. Carolus hingga akhir bulan kemarin. Nah, semakin mendekati HPL, saya mulai berpikir ulang apakah saya akan melahirkan di St. Carolus atau di RSUD Pasar Rebo yang relatif lebih dekat dengan rumah? Kalau suami sih terserah saja, mana yang nyaman buat saya saja, baik dari segi dokter maupun biaya 😛 .

Setelah berdiskusi dengan beberapa teman kantor yang kebetulan rumahnya berlokasi di Jakarta Timur, ternyata mereka banyak juga yang melahirkan di RSUD Pasar Rebo, pakai Askes/BPJS pula. Kemungkinan besar nantinya saya akan di-cesar karena saya mengalami placenta previa dan bayi saya kebetulan juga sungsang. Saya jadi lebih sering bertukar pikiran dengan para eks bumil yang sudah pernah melahirkan di RS pemerintah dan kebetulan melalui operasi cesar pula. Hmm, sepertinya tidak ada salahnya mulai mencari informasi tentang rumah sakit yang kelak menjadi tempat saya melahirkan, ya? Yuk, mari kita mulai petualangan kita mencari rumah sakit! 😀

Akhirnya hari Jumat lalu (6/6/2014) tujuan utama saya adalah ke RSUD Pasar Rebo. Pagi itu, setelah saya menyelesaikan tugas dan tanggung jawab saya di kantor, saya izin ke atasan untuk kontrol sekaligus mencari informasi ke RSUD Pasar Rebo. Jujur ini kali pertama saya berangkat sendiri ke sana untuk kepentingan saya sendiri. Sebelumnya sih 5 tahun yang lalu saya sudah pernah ke sana tapi untuk keperluan menjenguk mertua yang sedang dirawat di sana, itupun bersama suami. Sesampainya di sana saya kemudian diarahkan untuk menuju ke lantai 3, tempat pendaftaran pasien baru. Setelah mengisi formulir saya langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran administrasi dan setelah itu baru bisa mendapatkan kartu pasien dan nomor antrean di tempat pendaftaran tadi. Saya dapat nomor antrean 45, Sodara! Ternyata prosesnya tidak serumit yang saya bayangkan.

Poli Kandungan ternyata berada di lantai yang sama dengan tempat pendaftaran, tinggal jalan ke ujung saja sudah Poli Kandungan. Wah, ternyata di sana pasien yang menunggu giliran diperiksa sudah banyak. Kebanyakan adalah pasangan suami isteri atau dengan anggota keluarga yang lain. Setelah menyerahkan nomor antrean ke mbak-mbak suster yang manis di meja depan ruang praktik, saya pun mulai ditensi dan ditimbang berat badannya, plus diinterview seputar kesehatan dan hal-hal penting lainnya seputar kehamilan; baik kehamilan sebelumnya maupun yang sekarang. Setelah mengantre selama kurang lebih 30 menit, akhirnya nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruangan tunggu yang ada di dalam ruang praktik. Di sana ada 2 buah ruang praktik dokter dengan beberapa kursi tunggu pasien dan dua buah meja administrasi untuk suster. Waktu itu saya belum tahu dengan dokter siapa saya akan berkonsultasi lho, karena dokter yang pernah menangani teman-teman saya praktiknya baru nanti sore. Ya masa saya mau di situ sampai sore? Jadi ya sudahlah dengan dokter siapa sajalah, toh ilmunya sama ini, pikir saya 😀

Akhirnya, nama saya pun dipanggil. Di hadapan saya duduk seorang dokter berperawakan agak gemuk, berkacamata, berusia kurang lebih 30-40 tahunan. Dari stempel yang tertera di lembar resep akhirnya saya tahu, beliau adalah adalah dr. Ardian Suryo Anggoro, Sp.OG. Setelah diobservasi dan berkonsultasi ini itu, ternyata konsultasi dengan beliau enak juga, dokter yang cukup komunikatif dan memberi saya ruang seluas-luasnya untuk bertanya seputar kehamilan saya. Saya pun menginformasikan apa saja penanganan yang sudah diberikan oleh dokter di rumah sakit sebelumnya, apa saja vitamin yang sudah saya konsumsi, dan keluhan apa saja yang pernah saya rasakan. Tidak termasuk keluhan keuangan, ya 😆 .

Ada sesuatu yang lucu dengan diri saya sendiri. Selama ini, setiap kontrol, bisa dipastikan saya selalu membayar dalam jumlah yang lumayan besar untuk biaya konsultasi dokter hingga biaya obat/vitamin. Nah, di RSUD Pasar Rebo ini pun saya mempersiapkan hal yang sama, karena pikir saya obat/vitamin untuk ibu hamil kurang lebih harganya sama. Dengan harap-harap cemas saya menggenggam dompet di tangan saya, berharap agar harga obat/vitaminnya tidak lebih besar dari jumlah uang yang saya bawa. Ketika disebutkan jumlah yang harus saya bayar, saya sempat bertanya 2x sekadar untuk memastikan bahwa telinga saya masih berfungsi dengan baik. Ternyata harga vitaminnya amat sangat jauh dari harga vitamin yang biasa saya bayar, selisihnya bisa 4x lipat! Ya iyalah, biaya konsultasi di rumah sakit swasta kok dibandingkan dengan rumah sakit milik pemerintah. Wah, tahu gitu dari dulu langsung ke RSUD Pasar Rebo, ya… 😆

Oh, ya… dokter bilang, jika tidak ada kendala, HPL saya akan jatuh di tanggal 5 Agustus 2014, dengan catatan kondisi saya baik-baik saja dan belum ada kontraksi sebelumnya. Ok, Doc. I’ll save the date, then. Semoga bayi saya tumbuh kembang dengan sehat hingga waktunya dia terlahir nanti, dan semoga seluruh proses kelahirannya diberikan kelancaran. Aamiin… 🙂

Anyway, saya baru sadar… ternyata saya bisa juga mandiri. Padahal sebelumnya saya termasuk orang yang manja dan malas mengurus ini itu sendiri karena yang terbayang duluan adalah ribet-ribetnya dan kesulitannya. Padahal setelah dijalani ya nggak gitu-gitu amat juga. Ah, ini sih yang pemberani baby Jumjum nih, bukan mamanya :mrgreen:

Agenda berikutnya kalau kontrol lagi, mulai tanya-tanya tentang BPJS dan harga kamar deh… Semangaaat!

foto: dokumentasi pribadi

Advertisements

14 thoughts on “Pindah Rumah Sakit

  1. mba boleh tau gak ya berapa nominalnya ?
    saya hanya mau sekedar cek hamil atau tidaknya.
    mungkin tidak beda jauh.
    jd bs saya perkirakan
    thx..

  2. Halo Mbak Nona,
    Kalau di Carolus sih total biaya dokter dan vitamin sekitar 600 ribuan. Kalau di RSUD Pasar Rebo ya setengahnyalah kurang lebih. Kalau untuk lahirannya, karena saya pakai BPJS cuma bayar biaya naik kelas kamar aja, 315 ribu aja, padahal saya cesar 😀

    1. Mba..saya juga rencana akan melahirkan secara cecar di rsud pasar rebo..bpjs saya yg bpjs mandiri kelas 1..klw di upgrade ke vip kira2 abis brapa mba..waktu itu pengalaman mba gmna..hpl saya 18 feb besok. Klw selama priksa sih saya gk ada complain emang soalnya pake perseorangan bayarnya ya sekitar 300an setiap kali priksa..klw waktu mba lahiran pelayanannya oke gk mba..makasih ya mba.

      1. alhamdulillah OK, Mbak 🙂
        Coba tanyanya ke bagian admin yang di depan tuh, Mbak.
        Kapan hari saya cuma bayar biaya naik kelas aja sama obat yang nggak ada di apotek RSUD karena out of stock 😀

  3. salam kenal mba devi…
    saya lg nyari2 rs yg konsul dokter kandungannya yg kirah dan bagus nih.. hehehehe.. itu jdwal dokternya jam brp aja ya mba? maklum baru selesai kerja skitar jm 8 mlm. ohh iya
    biaya Konsul dan obatnya sekitar 300rb an sama dengan usg ga ya,mba?
    bila pakai bpjs, sulit g sih prosesnnya?
    maaf ya mba banyak pertanyaannya.. 🙂

    1. Tiap bulan saya selalu sempatkan ke RS untuk kontrol dan itu memang izin atasan, bisa setengah harian saya di RS. Untung atasan pengertian banget sama bumil 😀

      Kalo dokter itu jodoh-jodohan sih, Mbak. Kalau di RS Carolus ‘jodoh’ saya dengan dr. Royanto, beliau komunikatif sekali. Saya bisa tanya apapun yang berkenaan dengan kehamilan, baik secara langsung maupun via sms.
      Jadwalnya bisa dicek di sini http://rscarolus.or.id/jadwal-praktek/ . Kalau yang di Carolus biaya yang di atas udah termasuk USG, vitamin, periksa dokter.

      Kalau di RSUD Pasar Rebo, ‘jodoh’ saya dengan dr. Ardian Suryo Anggoro. Beliau biasanya jadwalnya pagi-siang. Harinya saya lupa hari apa aja. Kalau biaya sekitar 300 ribuan all in.

  4. Terimakasih ya bu atas komentarnya yg positif. Semoga ibu dan baby-nya selalu sehat. Senang bisa membantu

    dr. Ardian Suryo Anggoro, SpOG

  5. Halo Mba Devi, salam kenal…kalo di RS Pasar Rebo biaya persalinan normal atau secar perkiraan brp?Sharing pengalamannya ya,,terima kasih

    1. Halo, Mbak Amy, maaf baru jawab..
      Mmmh, kalau nggak salah sekitar 14 jutaan kalau cesar. Kalau normal di bawah itu sih… 😀

      1. Mba Devi, kalo pake BPJS mau Normal di RS Ps Rebo bisa gak ya, tanpa rujukan. Masuk UGD udh mules2 gt atau pecah ketuban misalnya…

      2. Bisa deh kayanya, soalnya kasus saya juga gitu. Tanpa rujukan (lagian juga posisi waktu itu jam 1-2 dini hari, jadi ya nggak ada Puskesmas yang buka), uadh pendarahan dan mules, jadi ya langsung masuk UGD 😀

  6. Halo mba devie.. boleh tanya faskes tingkat 1 bpjsnya di mana mba?.. untuk dapat surat rujukan ke rsud ps rebo. Trimakasih infonya yah.

    1. Halo, Mbak Ate!
      Aku di Puskesmas Cipayung. Kalau kontrol kebetulan aku nggak pakai BPJS, pakai pasien biasa. Tapi kalau pas lahiran kemarin berhubung langsung masuk UGD jadi ya nggak pakai surat dari Puskesmas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s