Balada Flat Shoes

flat shoes

Dulu, saya beli sepatu secara berkala. Maksudnya bukan secara rutin sebulan sekali, ‘berkala’ di sini maksudnya kala saya lagi pengen, kala dananya ada, kala sepatu yang lama lagi butuh peremajaan, atau kala nemu model sepatu yang lucu dan sesuai dengan selera saya. Kebanyakan sih sepatu-sepatu dengan ujung lancip, model-model stiletto, atau minimal dengan hak 5-10 cm. Maklum, untuk menunjang tinggi badan yang minimalis ini 😆

Namun ada hal yang signifikan sejak saya hamil. Koleksi high heels terpaksa saya pensiunkan di lemari atau disimpan di kotak, di bawah meja kantor. Sesekali saya pakai ketika saya harus bertugas di pelantikan saja. Selebihnya saya menggunakan sandal atau flat shoes. Nah, ngomong-ngomong tentang flat shoes, ada hal yang cukup ‘mencengangkan’. Sejak saya dinyatakan positif hamil hingga sekarang menginjak bulan ke 8, tak disangka sudah 5 buah flat shoes yang sudah saya ‘habiskan’. Ya, dalam tempo kurang dari setahun itu saya sudah berganti model sepatu hingga 5x. Bukan karena ingin berganti-ganti model atau konsumtif, melainkan saya sepatu-sepatu saya itu nasibnya sama antara satu dengan lainnya, solnya mangap semua. Bahkan sudah diperbaiki pun (dilem/dijahit) masih jebol-jebol juga. Dahsyat sekali ya kaki saya ini, padahal nggak bengkak banget lho.

Ya maklumlah, mungkin sepatu-sepatu itu mengalami ‘siksaan’ yang sama setiap harinya, harus menyangga berat badan saya yang semakin bertambah. Hmm, jangan-jangan kualitas sepatunya yang abal-abal? Ya sebenarnya sih nggak gitu juga, ya… Kalau untuk harian (ke kantor, atau untuk jalan-jalan), rate harga sepatu saya sih berkisar antara 200-300 ribu, itu juga sudah dapat model yang layak buat ke kantor/jalan-jalan. Tapi sekarang? Kayanya mau harga berapapun kayanya flat shoes-flat shoes saya akan bernasib sama selama menemani perjalanan saya menjadi ibu hamil ya 😀

Akhirnya, daripada saya nggak pakai sepatu ke kantor, saya pun membeli sepatu karet yang harganya 100 ribu 3 biji, dengan model yang sangat biasa (bukan saya banget), yang kalau dipakai lentur banget, yang kalau rusak lagi nggak bakal nyesel-nyesel banget 😆

Halah, ya sudahlah… wong cuma buat sebulan ke depan ini. Kata suami saya:

“udah, pakai aja sepatu yang kaya gitu dulu, toh cuma buat sampai lahiran nanti. Kalau sudah lahiran kan kamu juga bakal geber pakai high heels lagi tiap hari…”

Hihihihik, iyaaaa… 😀

 

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s