Welcome back!

Hari ini, saya mulai kembali beraktivitas sebagai seorang ibu bekerja. Tak terasa masa cuti melahirkan telah usai saya jalani selama 2 bulan, dan kini saatnya kembali menjalani rutinitas di kantor. Hmm, rasanya agak aneh dan agak loading lama ketika harus kembali menyentuh berkas dan komputer 😆 . Butuh sedikit waktu biar ‘mesinnya panas’ kali ya? :D.

Persis seperti dugaan saya, komentar yang bermunculan ketika melihat saya kembali masuk kerja adalah:

“Buset! Kamu gendut banget sih?! 😮 ”

“Wow! Molegh banget! 😆 ”

“Kamu ‘segeran’, Dev” —> walaupun saya tahu arti ‘segeran’ itu sama dengan gemukan, tapi secara konotasi sepertinya komentar ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan kata gendutan :mrgreen:

Kalau dulu, saya cuma bisa mendengarkan curhatan para ibu yang terasa berat meninggalkan anak mereka di rumah, kini saya mengalaminya sendiri. Andai Alea bisa saya bawa ke kantor, ingin rasanya saya bawa ke kantor. Tapi jelas tidak memungkinkanlah, nanti Alea bobonya di mana? Di mushola? Di ruangannya Pak Kepala Biro? Di pangkuan saya? *dibahas*. Nantilah, kapan-kapan kalau Alea sudah agak gedean, akan saya ‘perkenalkan’ ke lingkungan kantor mamanya beserta teman-teman mamanya yang lucu-lucu itu.

Trus, Alea di rumah sama siapa? Terpaksa saya mengimpor ‘Super Eyang’ (baca: mama saya), langsung dari Surabaya. Ya, sampai saya mau masuk kantor lagi, saya masih kesulitan mencari pengasuh untuk Alea :(. Belum lagi membaca berbagai pemberitaan tentang baby sitter yang memperlakukan bayi yang diasuhnya dengan semena-mena, membuat saya semakin paranoid. Baiklah, ini cuma perasaan dan pikiran saya saja mungkin, ya? Kalau semua baby sitter berulah negatif seperti itu, prospek usaha penyediaan tenaga baby sitter suram banget, dong? Alhamdulillah mama saya dengan suka cita mau membantu merawat dan mengasuh Alea selama saya bekerja. Jelas saya lebih percaya asuhan dan rawatan mama saya, karena… ya Alea diasuh oleh eyangnya sendiri gitu. Terima kasih ya, Ma :-*

Bagaimana dengan ASI-nya? Inilah saatnya perjuangan memberikan yang terbaik untuk Alea. Ya, kini ada aktivitas rutin yang saya kerjakan di sela-sela jam kerja saya, yaitu memompa ASI. Tas ini siap menemani saya menyimpan ASIP untuk Alea.

tas ASI

Dulu saya masih rajin membawa botol-botol kaca ASI, tapi makin ke sini saya lebih suka menyimpan ASIP langsung dalam plastik-plastik ASI seperti ini.

plastik ASIP

ASIP

Selain daya tampungnya lebih banyak, juga lebih praktis karena kita tinggal simpan di freezer, cairkan ketika akan diminum, dan plastiknya tinggal dibuang.

Ternyata jadi ibu bekerja itu bukan hal yang mudah di awalnya, ya. Tapi saya yakin seiring dengan waktu, nanti akan terbiasa dengan sendirinya. Semua cuma soal waktu kok.

Doakan ASI Mama selalu banyak ya, Nak. Love you, Cantik… :-*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s