Tentang Menyapih

weaned

Dari dulu saya sering bertanya kepada para ibu dan teman yang punya anak usia di bawah 3 tahun, tentang kapan, dan bagaimana cerita serta usaha mereka ketika menyapih anak. Dan berbagai cerita serta teori beragam sudah saya dapatkan, bahkan bahkan sejak Alea masih bayi. Kenapa harus sejak bayi? Baru juga mereka lahir, masa sudah mau disapih aja? Bukan, maksudnya, jika memang sudah waktunya, dan ternyata menyapih itu butuh kesiapan mental, setidaknya saya sudah mempersiapkan diri sejak dini.

Menyapih, bukan cuma bicara tentang kesiapan anak untuk tidak lagi menyusu kepada ibunya, tapi lebih dari itu, kesiapan dan keikhlasan ibunya untuk mulai melepas balitanya agar tidak lagi menyusu padanya. Dan itu bukan hal yang bisa begitu saja diterima dengan mudah oleh kedua belah pihak. Banyak ibu yang melakukan penyapihan lebih dini atau lebih lambat karena alasan–alasan tertentu. MIsalnya, karena kesibukan ibu bekerja sehingga tidak memungkinkan anak menyusu lebih lama, karena produksi ASI tidak lancar, atau karena anak tidak mau disapih.

Kalau bicara soal ASI, ASIP saya tidak terlalu banyak, yang botol/kantongnya sampai menuh-menuhin lemari pendingin. Tapi alhamdulillah cukup untuk Alea paling tidak sampai usianya 6 bulan. Di atas usia 6 bulan Alea masih menyusu pada saya sambil kombinasi dengan susu formula atau air putih, sambil frekuensi menyusunya mulai saya kurangi pelan-pelan sampai akhirnya hanya kalau mau tidur saja menyusunya.

Nah, hingga usia lebih dari 2 tahun, saya mulai galau sendiri. Bagaimana ya cara paling lembut untuk meminta Alea tidak lagi menyusu pada saya tanpa pakai mengoles ini itu di payudara saya. Frekuensi menyusu sudah sangat berkurang sih, kalau cuma mau tidur malam saja, itu juga nggak sampai 5 menit sudah pulas, cuma buat ngempeng doang.

Sampai suatu hari, kami pergi jalan-jalan ke Taman Mini untuk mengunjungi wahana baru, Petualangan Dinosaurus. Alea itu anaknya takut-takut berani, atau berani tapi takut, hahaha… ya begitulah. Kalau secara fisik sih, dia masih berani lihat, tapi jangan sampai menggeram/bersuara. Lha, kan di sana dinosaurusnya pakai sound effect semua. Jadi ya Aleanya sukses jejeritan. Kecuali kita sudah bilang kalau dinosaurus yang ini baik, dia tidak akan takut. Jadi ada sugesti positif dulu baru dia mau lihat dinosaurusnya. Owalah, niat miknikin anak, kok ya malah nggak terhibur ya, hahaha.

Sampai akhirnya dia melihat patung komodo, dan saya mulai cerita tentang komodo. Sebenarnya sih dari awal nggak ada niatan untuk menggunakan komodo sebagai ‘alat’ penyapihan, tapi kok ndilalah cerita komodo ini ternyata berhasil menyita perhatiannya sehingga malamnya dia tidak lagi menyusu pada saya.

Kok bisa? Emang ada cerita apa sama komodo? Hihihik. Saya cuma bilang, komodo itu nggak suka sama anak yang masih mimik mamanya. Kalau ada yang masih mimik mamanya, dia akan cari, trus nanti bakal nongkrong di depan rumah. Nah, dari situ Alea mikir, kok ngeri amat rumah dia ditongkrongin sama komodo? Jadi nggak bisa ke mana-mana dong? Nggak bisa keluar rumah, nggak bisa belanja, nggak bisa main, nggak bisa ke mall, nggak bisa main perosotan. Nggak asik banget ya komodo ini! Jadi, daripada rumah ditongkrongin komodo, mending aku nggak mimik Mama deh…

Eh, semudah itu? Mungkin lebih ke cara ‘mendongengnya’ ya. Mengingat ‘komodo nongkrong’ ini kan cerita yang sangat fiksi ya, tapi ndilalah dia paham dan mau nggak mau ‘menerima’ dongengan emaknya. Jadi ya begitulah, sejak tanggal 28 Maret 2017, Alea sudah tidak lagi menyusu ke saya. Sebenarnya dalam hati ya agak nggak tega juga sih, apalagi malam pertama dia bobo tanpa menyusu/ngempeng, itu bikin sedih. Guling sana, guling sini, minta mimik air putih, minta dikusuk-kusuk punggungnya, glibag-glibug, gelisah, minta mimik air putih lagi. Tapi lama-lama tertidur juga setelah saya usap-usap kepalanya sambil saya nyanyiin nina bobo. Begitu juga di hari kedua. Di hari ke tiga, cuma saya usap-usap punggungnya sambil saya sambi ngobrol sama papanya, kok dianya sudah nggak bersuara. Ternyata sudah pulas, padahal proses usap-usapnya nggak sampai 5 menit. Nah, sampai sini emaknya yang justru baper. Baper karena si anak sudah bobo sendiri tanpa ngempeng. Lah, gimana sih, kan situ yang minta anaknya nggak lagi menyusu. Iya sih, bapernya cuma sebentar kok, terusannya bangga. Ternyata Alea mudah menyesuaikan diri dengan kondisi yang bahkan kurang mengenakkan buatnya.

Setiap ibu pasti punya cara tersendiri untuk menyapih buah hatinya. Yang paling mudah sih kalau dari anaknya sendiri yang sudah tidak ingin menyusu pada ibunya, walaupun pasti ibunya baper. Tapi kalau anak tiba-tiba dijauhkan dari ASI, pasti anaknya juga akan bertanya-tanya, “kok aku nggak boleh mimik Mama lagi?”. Giliran anaknya yang baper, kan?

Ada teman-teman yang menyapih dengan melekatkan plester atau mengoleskan sesuatu yang rasanya pahit ke payudaranya. Ada juga yang katanya cukup diberi pengertian di setiap sesi komunikasi dengan anak, atau pas mau tidur malam, dan berbagai cara unik lainnya.

Jadi memang semua itu butuh cara, waktu, dan proses. Waktu dan cara menyapih oleh tiap ibu dan balitanya tentu berbeda-beda, karena setiap anak punya keunikan dan karakter sendiri, sehingga caranya pun tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya.

“While many people see weaning as the end of something – a taking away or a deprivation- it’s really a positive thing, a beginning, a wider experience. It’s a broadening of a child’s horizons, an expansion of his universe. It’s moving ahead slowly one careful step at a time. It’s full of exciting but sometimes frightening new experiences. It’s another step in growing up.”  

The Womanly art of Breastfeeding, page 237

Semua pengalaman menyusui Alea merupakan hal yang berkesan dalam hidup saya, kapan pun dan dimana pun. Semua memori dan pengalaman tentang menyusui, baik itu drama-dramanya, keseruannya, dan posisi-posisi ‘akrobatik’ yang pernah kami lakukan selama proses menyusui akan tetap ada dalam ingatan saya. Terima kasih Alea, untuk 2 tahun 8 bulan yang telah kita jalani bersama. I love you, pipi mochi!

– devieriana –

ilustrasi dipinjam dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s