Inhalasi

MYXJ_20170504142449_save

Jadi ceritanya, Alea sakit lagi. Bukan sakit lagi ding, tepatnya sakit yang kemarin belum beres. Kan cerita yang kemarin Alea demam plus batuk pilek. Nah sekarang batuknya yang masih ketinggalan, bahkan sepertinya agak parah.

Kalau soal nafsu makan dan aktivitas sih masih normal, seperti biasanya. Beda dengan ketika dia demam kapan hari, yang langsung menyusutkan seluruh aktivitas dan selera makannya. Kalau sekarang sih nafsu makan sudah kembali, aktivitasnya pun sudah normal seperti sedia kala. Tapi ya itulah, batuknya itu lho, kok ya bikin kasihan. Belum lagi saya, suami, dan eyangnya Alea juga batuk. Kayanya kompak kena batuk alergi, karena minum obat batuk yang biasa aja sudah tidak mempan.

Akhirnya Alea saya bawa lagi ke RS MMC untuk konsultasi ke DSA-nya Alea, Prof. dr. Soepardi Soedibjo, SpA. Sengaja saya pulang kantor 1 jam lebih cepat dari jam pulang demi menghindari macet di Rasuna sehingga bisa sampai di rumah sakit tepat waktu.

Pemeriksaan kali ini tumben Alea sama sekali tidak rewel. Bahkan ketika diminta untuk mendekat dan diperiksa dokter pun tanpa drama nangis sama sekali. Pun ketika dia diminta membuka mulut untuk diperiksa tenggorokannya oleh dokter. Pokoknya Alea kooperatif sekali malam itu. Mungkin karena badannya sudah tidak demam lagi, sudah lebih mendingan dibanding kondisi ketika dia ke rumah sakit kapan hari. Dan saya pun memberi sugesti dan cerita sebelum masuk ke ruang praktik, jadi dia lebih siap mental.

MYXJ_20170504142218_save

Alhasil Alea dinyatakan batuk alergi. Hampir setiap malam Alea rewel sepertinya hidungnya mampet atau kurang nyaman di pernafasannya. Tidurnya pun minta dipangku atau digendong, intinya bukan sambil tiduran di kasur. Menurut dokter, Alea mengalami peradangan disertai batuk, pilek, dan ada dahak, yang semua itu bisa mengganggu kebersihan jalan nafas dan membuat aliran oksigen ke paru-paru tidak lancar. Itulah kenapa oleh dokter Alea disarankan untuk inhalasi, salah satu fungsinya adalah untuk mengencerkan/membersihkan dahak. Dokter juga membuat resep yang berbeda dengan sebelumnya karena obat yang kemarin diresepkan sudah tidak bereaksi, Alea tetap saja batuk pilek.

Ini bukan kali pertama Alea diinhalasi, setahun yang lalu Alea sudah pernah diinhalasi. Tapi berhubung kondisi badannya memang kurang sehat, mood kurang bagus, dan pastinya paranoid duluan lihat suster dan peralatan medis yang ada, jadinya Alea menangis meraung-raung di ruang terapi, hihihi.

Tapi beneran deh, cerita ke dokter kali ini sangat berbeda. Alea jadi anak manis. Tidak menangis, tidak marah-marah, bahkan sepertinya ‘menikmati’ setiap sesi pemeriksaan.

Sesi inhalasi ini berlangsung selama 10 menit. Alea duduk manis di pangkuan eyangnya, sambil membawa brosur yang dia ambil di meja registrasi, dia terlihat asyik sendiri dengan brosurnya. Perawat memasangkan masker dan obat tanpa ada kesulitan. Alea juga enjoy dengan proses penguapan, sambil membolak-balik brosur di tangannya. Sehingga tanpa terasa 10 menit telah berlalu, dan inhalasi pun selesai. Setelah inhalasi, Alea ditepuk-tepuk pelan di area dada dan punggungnya oleh perawat untuk membantu pengeluaran lendir.

Trus, sekarang gimana? Udah sembuh? Alhamdulillah sudah mendingan. Batuk pileknya sudah berkurang banyak. Semoga habis ini sehat teruslah ya, Nak. Sedih mama tuh kalau kamu sakit… 😦

 

– devieriana –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s