Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

– devieriana –

Rumah Vaksinasi

jadwal imunisasi

Hampir setiap bulan, sejak Alea lahir, saya selalu rutin memvaksinkan Alea ke rumah sakit. Awalnya di Pasar Rebo karena sekalian kontrol ke Dokter Spesialis Anak (DSA) yang menangani Alea ketika lahir. Tapi berhubung waktu itu dokternya sedang tidak praktik, Alea ditangani oleh DSA yang lain. Sayangnya saya agak kurang sreg dengan cara menangani Alea. Agak kurang gimana gitu kalau menangani bayi. Semoga ini cuma perasaan saya saja.

Untuk alasan itu pulalah saya hanya sampai vaksinasi awal saja di RS Pasar Rebo, selanjutnya pindah ke rumah sakit swasta yaitu RS Meilia, di daerah Cibubur. Berhubung saya waktu itu belum ‘kenal’ harus dengan dokter siapa. Saya random saja, seadanya yang praktik siang itu. Kebetulan saya hanya punya waktu luang di hari Sabtu dan Minggu, jadi setiap vaksin selalu di hari Sabtu.

Di RS Meilia ternyata Alea ditangani oleh dr. Retno Saraswati, SpA., M.Kes. Dokternya asyik, komunikatif, teliti, dan sabar. Selama beberapa bulan setiap kali vaksin di sana. hanya 2x saja ketika dr. Retno tidak ada, saya terpaksa ganti dokter lain yang available hari itu, ada dr. Handarmi, SpA., dan dr. Yuni Kurnia P., SpA. Mereka berdua asyik, sabar, komunikatif, dan memberi ruang seluas-luasnya bagi kami untuk bertanya dan bercerita.

Mereka juga tak segan untuk memberi masukan atau jawaban-jawaban atas pertanyaan polos kami yang masih newbie ini. Seperti misalnya kenapa bayi saya pupnya tidak setiap hari, bisa 2-3 hari sekali. Sebagai orangtua pasti galau ya, kok bayinya buang air besarnya tidak setiap hari. Kadang kita saja yang dewasa kalau buang air besar tidak lancar saja pasti perut juga tidak nyaman. Gimana kalau bayi? Apakah dia juga merasakan tidak nyaman seperti orang dewasa? Jawabannya: “coba ibu jangan makan jagung apapun bentuknya. Ibu juga banyak makan serat dan buah, seperti pepaya, biar baby-nya buang air besarnya lancar.”. Saya ingat-ingat lagi dong, eh ternyata benar, itu gara-gara saya suka banget makan perkedel (dadar) jagung 😦 . Owalah, tahu gitu saya nggak makan, ya 😐 . Atau pertanyaan, sampai usia berapakah kepala bayi akan menutup? Ternyata sampai kurang lebih 1 tahun baru menutup sempurna.

Nah, semenjak saya pindah ke Mampang, saya jadi agak mikir-mikir kalau harus ke RS Meilia yang lumayan jauh itu. Dulu pertimbangannya kenapa kami pilih RS Meilia, karena rumah mertua kebetulan di daerah Cipayung, dan saat itu kami masih tinggal di sana, jadi kalau mau ke Cibubur tinggal selemparan beha doang :lol:. Nah, sekarang harus cari alternatif juga nih, mengingat kami tidak ada kendaraan selain motor.

Lha kok ndilalah, di dekat rumah ada Rumah Vaksinasi. Sudah pernah dengar sih tentang Rumah Vaksinasi sebelumnya. Tapi kalau melihat bentuk rumah vaksinasi itu seperti apa, belum pernah. Hingga akhirnya saya bertempat tinggal di Mampang dan kok ya bertemulah saya dengan Rumah Vaksinasi ini.

Kebetulan Alea masih ada 3 vaksin yang belum dijalani, yaitu PCV, Rotavirus, dan Campak. Akhirnya, sepulang kantor saya sempatkan untuk mampir ke sana sekadar untuk mencari informasi seputar syarat dan harga. Tentu saja sebelum ke sana saya sudah browsing dulu seputar harga vaksinnya 😀

Di Rumah Vaksinas kita cuma butuh diregistrasi dan membayar harga vaksinnya saja. Biaya dokter dan registrasinya free. Sempat juga saya bandingkan dengan harga vaksin di RS Meilia, ternyata relatif sama. Bedanya, di RS sebelumnya ada biaya pendaftaran dan biaya dokter, kalau di Rumah Vaksinasi kita cuma bayar biaya vaksinnya saja. Semua dijelaskan secara terbuka kok, dan bisa dilihat juga di sini .

Akhirnya, cobalah saya memvaksinasikan Alea di Rumah Vaksinasi. Rumah Vaksinasi yang di Mampang ini beralamatkan di Jln. Mampang Prapatan IV No. 69, Jakarta Selatan. Jadwal praktiknya hari Selasa dan Kamis pukul 19.00-21.00 wib, dan hari Sabtu pukul 09.30-13.00 wib. Ada dr. Innes Ericca dan receptionist-nya ramah banget. Memang sih ruangannya tidak terlalu besar, tapi cukuplah kalau untuk sekadar memvaksinasi dan konsultasi saja. Nyaman kok ;). Oh ya, pertama kali saya bertemu Tante Dokter ini (demikian dia membahasakan dirinya pada Alea) kesan saya positif; dokter yang ramah, komunikatif, dan teliti.

So, sepertinya sejauh ini saya dan papanya Alea cocok tuh dengan Rumah Vaksinasi. Jadi kayanya next time kami akan ke Rumah Vaksinasi untuk kebutuhan vaksin Alea. Selain lokasinya dekat, dokternya komunikatif dan asyik, yang lebih penting biayanya juga ramah di dompet, hihihihik. Ya maklumlah ibu-ibu..

:mrgreen:

– devieriana –

sumber tabel jadwal imunisasi dari sini

Galau Itu…

Lama sekali saya hibernasi dari blog ini. Tapi alhamdulillah saya sehat kok. Nggak ada yang nanya biarin deh :lol:.

Kabar Alea alhamdulillah baik, sehat. Dia mulai belajar makan makanan padat. Sebenarnya sudah mulai saya training di usia 6 bulan kurang semingguanlah. Lucu sekali melihat dia belajar mengecap, mengunyah, dan merasakan masakan ‘asing’ di lidahnya. Ya, makanan ‘asing’, karena selama 6 bulan dia kan hanya melulu ASI. Dan selama itu alhamdulillah berat badannya pun alhamdulillah masih terus naik, walaupun nggak bombastis berkilo-kilo. Emang berat badan emaknya? :|. Semoga kalau dia sudah makan nanti berat badannya tetap bisa naik ya…

Kapan hari saya sempat galau sendiri mau meninggalkan Alea pergi gathering ke Anyer. Galau, karena dia kalau bobo malam harus sambil menyusu dan dielus-elus punggungnya. Kalau malam juga sering terbangun (dengan mata tetap merem) karena haus, baru bobo anteng sekitar jam 4 atau 5 pagi. Kedua, dia lagi mau tumbuh gigi, jadi ya agak uring-uringan dan agak GTM (Gerakan Tutup Mulut). Ketiga, karena namanya employee gathering ya berarti yang berangkat employee aja, walaupun sebenarnya sama teman-teman kantor malah disuruh bawa Alea ke gathering. Buat hiburan katanya :lol:. Tapi enggak ah, malah nanti anaknya malah nggak bisa istirahat tenang, wong acaranya aja sampai larut malam. Keempat, kebetulan kok ya ndilalah saya didapuk jadi seksi acara, jadi ya seksi ribet.

Akhirnya, Mama memutuskan, “udah, kamu berangkat aja. Alea mah gampang, biar Mama yang urus. Wong cuma semalem aja, tho?”. So, berangkatlah saya dengan setengah hati. Setengah hati karena agak kepikiran, nanti Alea bakal rewel nggak, ya? Tapi lagi-lagi Mama dan Papanya Alea meyakinkan saya bahwa Alea akan baik-baik saja bersama mereka.

Untunglah saya tidak jadi mengajak Alea ke gathering. Kalau jadi, wah… bisa-bisa anak itu nggak bisa bobo karena keberisikan, karena sampai jam 1 dini hari pun masih banyak teman yang main gitar, nyanyi-nyanyi, dan ngobrol.

ternyata ketika saya belum pulang sudah asyik sendiri berdua papanya, nonton Penguin of Madagascar entah untuk yang ke berapa puluh kalinya
ternyata ketika saya belum pulang sudah asyik sendiri berdua papanya, nonton Penguin of Madagascar entah untuk yang ke berapa puluh kalinya

Kata Mama, Alea memang sempat agak rewel karena bobo tanpa saya, tapi masih bisa ‘ditaklukkan’ Mama. Siangnya dia juga sudah asyik sendiri nonton Penguin of Madagascar dan main bareng papanya. Ketika saya sampai rumah sekitar pukul 4 sore dia menyambut saya dengan excited seperti tidak ada ‘insiden’ kalau mamanya semalam tidak ada di rumah.

Oalah, Nak :mrgreen:

– devieriana –

Happy Holiday!

Museum Angkut 2

Hai, apa kabar kalian? Bagaimana suasana pergantian tahun di tempat kalian? Saya, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya menghabiskan suasana pergantian tahun di tempat tidur. Apa lagi kalau bukan tidur 😆 . Mau belum ada bayi atau sudah ada bayi pun sama saja. Bedanya, tahun ini saya melewatkan pergantian tahun di Jawa Timur, di rumah orang tua saya, sambil ngeloni bayi yang tidurnya kurang begitu tenang ketika pergantian hari karena di luar sana bunyi mercon dan kembang api sahut menyahut sampai kurang lebih pukul 01.00 wib.

Oh ya, ini adalah pertama kalinya saya beserta keluarga mudik ke Jawa Timur, bersama Alea tentu saja. Sebelum berangkat kami sempatkan untuk memenuhi jadwal kontrol Alea ke dokter sekalian konsultasi tentang semua hal yang harus dilakukan ketika terbang bersama bayi. Karena membawa bayi saat bepergian menggunakan pesawat terbang itu sedikit lebih ribet dibanding mengajak anak yang usianya di atas satu tahun. Kata dokternya Alea saat memberikan penjelasan pada kami, pada saat mengangkasa, biasanya udara di dalam kabin cenderung tidak stabil. Udara panas atau dingin dapat berubah cukup cepat. Itulah sebabnya bayi harus mendapat perhatian lebih, karena tidak semua bayi mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan di angkasa. Kalau dilihat dari usia dan kondisi kesehatan Alea insyaallah Alea aman diajak bepergian naik pesawat.

AleaSebenarnya mau pergi naik pesawat yang jam berapapun sih aman-aman saja untuk bayi. Oleh dokter kami disarankan untuk mudahnya dan biar nggak ribet, pilih saja jam penerbangan yang merupakan jam tidurnya bayi. Tapi mau terbang di jam berapapun sih sebenarnya nggak ada masalah kok. Intinya bayi harus dalam keadaan sehat, tidak sedang flu, dan ketika take off dan landing bayi harus disusuin (dalam keadaan mengunyah).

Awalnya sih agak mikir juga, kalau jam tidur yang panjang ya malam hari atau pagi-pagi buta. Agak kasihan juga kalau harus membangunkan Alea di pagi buta untuk berangkat ke bandara. Tapi bismillah sajalah, semoga segalanya dimudahkan. Eh, ndilalahnya kami dapat penerbangan paling pagi, jam 05.00 dengan menggunakan Lion Air. Kami mulai bersiap pukul 02.30 dini hari, dan mulai membangunkan Alea pukul 03.00. Untungnya dia nggak rewel, bahkan jam segitu dia langsung bangun, ngoceh-ngoceh, ketawa, gegulingan, ceria sekali, seolah tahu kalau mau diajak pergi. Dia juga tidak rewel selama perjalanan menuju bandara, walaupun cenderung diam. Entah diam melihat pemandangan yang masih gelap gulita, atau sebenarnya dia masih ngantuk 😀

Sesampainya di bandara suami langsung mengurus segala sesuatunya termasuk konfirmasi ke petugas bandara/maskapai bahwa kami membawa bayi, karena ada formulir khusus yang harus diisi. Entahlah missed-nya di mana/siapa, hingga kami di atas pesawat pun tidak ada formulir yang kami isi, padahal hampir di setiap gate kami lapor ke petugas, bahkan sampai di ruang tunggu pun kami konfirmasi kalau kami bawa bayi. Agak heran juga. Apakah memang cukup dengan lapor secara lisan aja atau seharusnya ada formulir yang harus kami isi?

Ketika kami sudah duduk di seat kami, barulah ada pramugari dan petugas yang ‘ngeh’ kalau kami membawa bayi. Duh! Lha tadi ke mana saja? Tidak adakah koordinasi dari petugas maskapai di bandara dengan yang on board? Pramugari yang sama menanyakan pada saya berapa usia bayi sebanyak 2x. Kalau mbak itu jadi petugas callcentre bisa saya kasih nilai nol di poin “mendengarkan dengan sungguh-sungguh” lho :-p. Barulah setelah itu ada petugas yang meminta saya untuk mengisi form. Owalah, Mas, Mas. Tadi ke mana saja?

Alhamdulillah Alea tidak rewel sama sekali, selama penerbangan dia tidur dengan pulas dan baru bangun ketika sudah landing di Juanda. Kok ngerti ya kalau sudah sampai tempat tujuan, ya? :mrgreen: . Pun ketika dalam perjalanan dari Juanda menuju ke rumah, dia juga tidur dan langsung bangun ketika sudah masuk komplek rumah 😆 . Padahal dia kan baru pertama kali ke rumah eyangnya, kok bisa bangun pas sudah dekat rumah ya? 😆

Museum Angkut 1Selama liburan kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama seluruh keluarga, sekalian jalan-jalan ke Malang. Ah, ya… kami juga menyempatkan ke Museum Angkut. Iya, itu satu-satunya tempat yang sempat kami kunjungi selama di Malang. Itu juga sampai di sana sudah sore karena kami harus mengantarkan adik yang pulang duluan ke Jakarta lantaran dia sebenarnya belum dapat cuti. Maklum pegawai baru 😀

Ah ya, secara keseluruhan Museum Angkut itu keren, karena menyajikan banyak sekali objek foto yang instagramable, dan spot foto yang lucu buat ajang narsis-narsisan. Tapi sayang, jiwa narsis saya sudah mulai punah. Sudah nggak pede lagi berfoto dengan badan yang menggendut dan pipi chubby seperti sekarang 😆 .

Oh ya, hampir saja saya lupa. Akhirnya saya bisa merasakan makan Bebek Sinjay yang tersohor asal Bangkalan itu! Awalnya sih beneran mau ke Bangkalan Madura sana Tapi pas kita lihat di Jln. Jemursari , Surabaya (depan taman Pelangi) kok ternyata juga ada cabang, tanpa pikir panjang kita pun langsung capcus nongkrong di depot yang pengunjungnya ramai, sampai antre-antre. Soal rasa, jangan ditanya. Enaknya pakai banget! Apalagi dimakan pas nasinya anget, bebeknya juga empuk, kremesannya juga gurih, plus ditambah pakai sambal pencit (mangga muda). Beuh… *lap iler*

bebek sinjaySo far liburan kali ini alhamdulillah lancar, dan menyenangkan. Sengaja kami pilih pulang di hari Sabtu, 3 Januari 2015, supaya hari Minggunya kami bisa istirahat. Kebetulan kali ini kami naik Garuda, penerbangan pukul 06.15 wib. Isi kabin pesawat kebanyakan anak-anak yang sepertinya akan pulang selepas libur panjang. Sengaja kami pilih penerbangan pagi biar Alea bisa bobo selama di perjalanan. Dan ternyata kami tidak salah pilih jadwal, karena Alea tidur pulas dalam gendongan sejak di ruang tunggu bandara sampai dengan di Soekarno-Hatta. Anak pintar! :-*

Hmm, sepertinya mulai siap untuk merencanakan liburan berikutnya. Hei, Bromo apa kabar, ya? Masih belum sempat ke sana padahal sudah direncanakan berkali-kali. Entahlah, mungkin kami memang belum berjodoh.

Bagaimana dengan liburan kalian di akhir tahun kemarin? Semoga juga sama menyenangkannya ya 🙂

 

[devieriana]

Power Pumping

Hari ini sudah hampir 5 bulan saya menjadi seorang ibu. Ternyata begini ya rasanya, hihihik. Ya, kalau dibandingkan dengan yang sudah punya banyak anak atau sudah lebih senior dari saya sih, saya pasti belum ada apa-apanya. Namanya juga masih newbie 😀

Alhamdulillah perkembangan Alea bagus. Dia juga makin pinter. Sudah pinter tengkurap dan sedang belajar balik badan sendiri, terus juga sudah bisa mengangkat leher dan setengah badannya. Dia lagi hobby menyembur dan ngoceh-ngoceh. Kalau dia sudah mulai mengoceh atau tertawa terkekeh-kekeh, seluruh rasa suntuk dan capek sepulang kerja langsung hilang dengan sendirinya. Subhanallah 🙂

ASI, alhamdulillah masih, walaupun agak kejar tayang. Tapi tetap diusahakan, pokoknya Alea harus minum ASI. Hari ini saya lagi nyobain power pumping, nih. Sebuah teknik yang bisa dipakai untuk meningkatkan produksi ASI. Idenya sederhana, yaitu dengan cara memompa sesering mungkin supaya memproduksi ASI sesering mungkin. Jadilah hari ini, di tengah waktu ‘senggang’ saya di kantor (Pak Bos lagi dinas, makanya saya bisa sedikit santai, hihihik…) saya pompa ASI dari payudara kiri dulu selama 10 menit, lalu dilanjut dengan payudara kanan selama 10 menit. Setelah keduanya terpompa selama masing-masing 10 menit, saya istirahat selama 10 menit sebelum melanjutkan memompa lagi payudara kiri dan kanan masing-masing selama 10 menit. Jadi total masing-masing payudara dipompa selama 20 menit dengan istirahat selama total 20 menit.

asi 4
hasil mencoba power pumping siang ini

Semoga ada hasilnya, ya. Maksudnya biar nambah banyak ASI-nya. Kita coba lihat hasilnya besok ya. Semoga ada perubahan. Pokoknya terus berusaha, dan tetap bersyukur berapa pun hasil pumping-nya.

Ayo, tetap semangat pumping, Mama Alea! 😀

 

Tengkurap

Hari ini usia Alea hampir 4 bulan. Ya, kurang lebih 10 hari lagilah. Alhamdulillah dia sehat, tumbuh kembangnya sejauh ini bagus. Kalaupun pernah sekali, dua kali badannya tiba-tiba anget itu juga nggak pernah lama, karena langsung saya minumkan ASI sampai suhu badannya kembali normal.

Tapi bukan itu poin yang ingin saya bagikan di sini, ada hal lain yang membuat saya ceria hari ini. Seperti biasa, saya ‘memantau’ Alea dari kantor via sms/telepon ke Mama saya. Dan hari ini, ada perkembangan yang membahagiakan buat saya. Alea, gadis imut saya itu sekarang sudah bisa tengkurap sendiri! Yaaay! Kemarin-kemarin dia masih baru memiringkan badannya ke kiri atau kanan. Kalaupun tengkurap kadang tidak sengaja, itu pun kepalanya masih terantuk-antuk kasur. Masih perlu dibantu oleh kami terutama untuk meletakkan tangannya ke depan (biasanya ketindihan badannya sendiri, dan dia ngoceh-ngoceh seperti minta bantuan agar tangannya ditarikkan :D). Tapi hari ini, Mama cerita via sms kalau Alea sudah bisa tengkurap sendiri tanpa bantuan Eyangnya :D.

tengkurap

Alhamdulillah. Mama bangga sama kamu, Dek. Tumbuh kembang sempurna ya, Cantiknya Mama.
Love you :-*

 

 

Welcome back!

Hari ini, saya mulai kembali beraktivitas sebagai seorang ibu bekerja. Tak terasa masa cuti melahirkan telah usai saya jalani selama 2 bulan, dan kini saatnya kembali menjalani rutinitas di kantor. Hmm, rasanya agak aneh dan agak loading lama ketika harus kembali menyentuh berkas dan komputer 😆 . Butuh sedikit waktu biar ‘mesinnya panas’ kali ya? :D.

Persis seperti dugaan saya, komentar yang bermunculan ketika melihat saya kembali masuk kerja adalah:

“Buset! Kamu gendut banget sih?! 😮 ”

“Wow! Molegh banget! 😆 ”

“Kamu ‘segeran’, Dev” —> walaupun saya tahu arti ‘segeran’ itu sama dengan gemukan, tapi secara konotasi sepertinya komentar ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan kata gendutan :mrgreen:

Kalau dulu, saya cuma bisa mendengarkan curhatan para ibu yang terasa berat meninggalkan anak mereka di rumah, kini saya mengalaminya sendiri. Andai Alea bisa saya bawa ke kantor, ingin rasanya saya bawa ke kantor. Tapi jelas tidak memungkinkanlah, nanti Alea bobonya di mana? Di mushola? Di ruangannya Pak Kepala Biro? Di pangkuan saya? *dibahas*. Nantilah, kapan-kapan kalau Alea sudah agak gedean, akan saya ‘perkenalkan’ ke lingkungan kantor mamanya beserta teman-teman mamanya yang lucu-lucu itu.

Trus, Alea di rumah sama siapa? Terpaksa saya mengimpor ‘Super Eyang’ (baca: mama saya), langsung dari Surabaya. Ya, sampai saya mau masuk kantor lagi, saya masih kesulitan mencari pengasuh untuk Alea :(. Belum lagi membaca berbagai pemberitaan tentang baby sitter yang memperlakukan bayi yang diasuhnya dengan semena-mena, membuat saya semakin paranoid. Baiklah, ini cuma perasaan dan pikiran saya saja mungkin, ya? Kalau semua baby sitter berulah negatif seperti itu, prospek usaha penyediaan tenaga baby sitter suram banget, dong? Alhamdulillah mama saya dengan suka cita mau membantu merawat dan mengasuh Alea selama saya bekerja. Jelas saya lebih percaya asuhan dan rawatan mama saya, karena… ya Alea diasuh oleh eyangnya sendiri gitu. Terima kasih ya, Ma :-*

Bagaimana dengan ASI-nya? Inilah saatnya perjuangan memberikan yang terbaik untuk Alea. Ya, kini ada aktivitas rutin yang saya kerjakan di sela-sela jam kerja saya, yaitu memompa ASI. Tas ini siap menemani saya menyimpan ASIP untuk Alea.

tas ASI

Dulu saya masih rajin membawa botol-botol kaca ASI, tapi makin ke sini saya lebih suka menyimpan ASIP langsung dalam plastik-plastik ASI seperti ini.

plastik ASIP

ASIP

Selain daya tampungnya lebih banyak, juga lebih praktis karena kita tinggal simpan di freezer, cairkan ketika akan diminum, dan plastiknya tinggal dibuang.

Ternyata jadi ibu bekerja itu bukan hal yang mudah di awalnya, ya. Tapi saya yakin seiring dengan waktu, nanti akan terbiasa dengan sendirinya. Semua cuma soal waktu kok.

Doakan ASI Mama selalu banyak ya, Nak. Love you, Cantik… :-*